sepertinya...
sejak mentari belum enggan pergi
Kau henda menayakan sesuatu padaku
Tentang kegelisahan ku
gelisahku menunggu balasan rindu
Kau bertanya
"untuk apa?"
lalu ku jawab
"aku merindukannya"
Kau menjawab
"ia mengabaikanmu"
lalu aku membela
"mungkin ia sedang sibuk"
Kau mulai kasihan padaku
"setidaknya, pedulilah pada waktu mu terlebih pada hatimu"
aku tak punya tanggapan untuk Mu
wajah teduh bunda ku bertaburan bak pasir di negeri Muhammad
menghambur dalam mataku
dan membuat tenggorokanku tercekat
"Baiklah"
kata yang bisa ku ingat saat ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar