Jumat, 19 Oktober 2012

Sungguh....

Sungguh....
Kali ini tongkat lapuk yang ku genggam
Benar-benar sampai pada pemberhentiannya
Bagaimana tidak....
Bukit kecil didepannya menari
Menawarkan pesona indah sekali

Sungguh....
Kali ini camar-camar tak mampu menggoda lagi
Bagaimana tidak...
Tongkat lapuk itu menjadi kokoh kembali
Kala mentari menyinari dari pangkal hingga ujung

Sungguh....
Apa yang bisa dijadikan alasan bagi si lapuk itu?
Dunia menunjukkan kebenarannya
Dan langit tlah menutup contekan masa lalunya

Sungguh....
Diarasakan olehnya kehidupan
Dirasakan olehnya suatu makna
Dan dirasakan olehnya cinta.


Kamis, 11 Oktober 2012

Rasakan

Jangan tertawa
Diamlah saja dan rasakan sensasinya
Coba kau tanya pada hatimu
Sudah hidupkah sekarang?

Ketika dulu kau meremehkan sinisnya alam
Kini kau sedang memeluknya
Tepat dalam dadamu
Bersanding dengan hatimu
Menyatu dengan jantungmu

Coba kau ingat kembali
Ketika kau bermain dengan terdahulunya
Apakah seperti ini?
Dan ternyata nihil

Bagaimana kau bisa pergi untuk saat ini?
Semoga hatimu terus berkata tak bisa
Selama langkah ini baik-baik saja
Selama nafas kami tetap pada tempatnya
Semua akan baik-baik saja

Selasa, 02 Oktober 2012

Start

kau tau sayang???
pesona mu menuntun ku untuk terpejam
menuntunku untuk berpikir bahwa kau baik
dan aku selalu menyukai itu

Senin, 01 Oktober 2012

I Got Tired Waiting

Menjaga sebuah villa yang kosong bukan hal mudah
Memerangi ilalang yang tumbuh semaunya bukanlah mudah
Menjaga agar lukisan itu tetap ditempatnya pun bukanlah hal yang mudah

Ketika kau datang
Melangkah masuk membuka pintu tua itu
Apa yang kau rasakan?
Bisakah kau merasakan sebuah penyambutan?
Dan kukira kau terlalu sombong untuk merasakan

Datang dan berjalan sesukamu
Keluar sesukamu
Tanpa kau memberikan sentuhan mu
Bagaimana dengan pintu itu?

Ia terus terbuka
Tak peduli kapanpun ia tak pernah menutupnya
Hingga suatu pagi ia terbangun dari sihir
Menjerat lehernya dan menukik tajam dalam pikirannya

Selama ini
Begitu bodohnya ia
Tak pernah ia ketahui
Sekuntum mawar bersandar dikakinya
Menunggu kerlingan mata dan sisa senyumnya

Dilihatnya mawar itu
Tulus dan tak bersyarat
Dipetiknya mawar itu
Dijadikanlah mawar itu kunci dari sebuah pintu
Pintu yang kini tak kenal dirimu
Pintu yang kadang mnyesali pemetikan itu
Namun ia akan lebih menyesal jika saja ia terus membuka pintu tua
Hanya untuk drakula yang terpunahkan masa