Selasa, 14 Februari 2012

Senja kemarin


Pelangi yang datang di senja itu tak salah
Hujan yang membasahi gurun pun tak salah
Namun ku rasakan
Rasaku salah
Rasa ku salah berlabuh

Pelabuhan mu menyibakkan cahya nya
Hingga ku tak kuasa untuk sekedar meliriknya
Kau pacu suara mu
Memenuhi kehidupan ku
Hingga ku rasakan sejuk nafas mu
Menggerayangi sadar ku

Kau panas kan kobaran lama
Membuat ku terlena

Kau hempaskan disudut senja
Dimana pelangi tk lagi datang

Kau hancurkan angan ku
Kau curi kehidupan ku
Hingga aku tau
Aku telah salah menilai mu
Kau bahkan tak mengenal kata
Kau bahkan lupa malam itu apa

Sungguh kau mengenalkan ku
Pada kebencian baru

Namun aku tau
Mengenal mu bukan lah sebuah kesalahan
Tapi mengenal mu adalah sebuah pelajaran

Maaf kan aku

Bagai hujan di kala banjir kau datang pada ku
Teras yang tersapu peluh mu
Tak menyurutkan tekat ku untuk bertahan
Aku punya alasan
Aku punya tujuan

Kau berhak atas langkah mu
Dan aku berhak atas wilayah ku

Kau senandngkan rindu
Ku biaskan cahaya palsu

Taukah kamu?
Aku merintih...
Aku sakit.....
Dan tak mampu tuk berkedip

Semua terasa pilu
Kau datang d waktu beku
Kau datang di hati sendu

Tak kenal kata
Dan tak kenal cinta
Pujangga, maaf kan aku
9 februari 2012 @ kmar kos q

Kamis, 02 Februari 2012

Kau seperti hujan tadi sore



Kala hujan turut mendinginkan hatiku
Kau datang dengan payung biru mu
Sapaan mu adalah petir bagiku
Entah sebagai melodi
Atau malah sebagai caci

Aku rasakan badai yang kau persembahkan
Dipenghujung akhir bulan
Mengingat mu
Seakan bertambah dingin hati ku
Merindukan mu
Seakan aku kehilangan waktu

Bayang mu bagaikan malam
Aku berada di sudut terjauh mu

Tak mungkin kau kenali
Dan tak mungkin kau mengerti
Arti senyum ku adalah tangis
Arti hangat ku adalah sakit

Ku rasakan kau terasing dari nirwana
Dan aku tau
Kau tak mengenal cinta

Kelabu Dalam Angan Ku




Jika saja langit menyibakkan bayang mu
Kan ku rekam seperdetik yang terjadi
Jika saja kau disini dengan ku
Kan ku telan rasa damai
Hingga ku yakin tak merindu mu

Sebegitu dalamnya semua ini
Hingga tempurung bumi pun
Tak sanggup memeluknya

Kaki rapuh dari kayu lapuk
Terjatuh lunglai tak bernyawa
Ku dapati sebingkah hatimu disana
Tersenyum pada bibir merah jambu

Tak ku lihat ola matamu
yang sejajar dengan ku
dan garis waktu mentakdirkannya
untuk terpaku pada nafas
selain aku