Jumat, 28 September 2012

Disanalah Ia kehilangan Akal

Gulungan yang berlarian itu seolah tak mengenal lelah
Dipacunya kaki mereka yang kuat
Membelah daratan tanpa ampunan
Segelintir pasir terkoyak dan terpisah dari induknya

Selama penampakan bulan
Selama hembusan topan
Selama itu pula ia yakin
Teruslah mereka berlari
Hingga suatu pagi
Terantuklah hati kuat itu
Pada sebuah bongkah lunak tak berperan

Disana ia bimbang
Disana ia gila
Dan disana ia melupakan penantian
Disanalah ia kehilangan akal
Dihati yang awalnya tak dikenal

Kamis, 27 September 2012

Tunggu Dan Lihat

Kau tau....
Langit disana tak pernah mendengar
Bunga disana hanya terdiam bisu
Ketika ku lantunkan bagaimana rasaku

Coba dengarkan usik dedaunan dikala senja
Mereka membela seorang renta
Singgah diperkebunan hitam tak berteman
Tetap mencoba menggenggam pilihan

Kakinya melangkah menuju runtuhan arjuna
Mendaki tanpa batas keatas nirwana
Harapannya hanya lah sebuah pembelaan
Tentang apa yang telah ia lakukan

Di sudut kecil ia tepekur
Dalam genggamnya kini ada satu bintang
Kecil memang...
Tapi tunggulah, sampai pagi menjelang
Dan lihat apa yang akan terjadi


Sabtu, 22 September 2012

Biarkan saja

Dahulu tak pernah kusukai langit itu
Terlalu menyilaukan
Terlalu tinggi untuk ku gapai

Hingga suatu malam
Ku dapati sayap elang menggayut dipohon pinang
Melambailakn bulu-bulu kuatnya
Mengajakku mendekat

Kala itu aku sedang bermimpi
Mencoba merasakan kesejukan dibawah sayapnya
Namun ternyata aku mulai terbiasa
Dan ternyata hati ku tinggal disana

Kini aku malu dengan ucapku kala itu
Aku membencimu
Namun kini aku bergantung pada lengan mu
Bagaimana hidup ini begitu menyebalkan
Bagaimana aku mencari alasan

Namun, terlanjur kusukai warnamu
Terlanjur pula aku berada disitu
Jadi biarkan kedua kaki ini melangkah disana
Entah apa yang terjadi
Lakukan saja bersama.
:)

Sabtu, 15 September 2012

Penyibakan Sudut

terlihat kebiruan disana
menanti sepasang tangan berbalut warna
entah apa yang akan tergambarkan
berharap warna itu mengindahkan

dikursi ini duduklah wanita berkepang
sendirian menanti sebuah kedatangan
matanya meraba keseluruh penjuru
sudut demi sudut ia sibakkan

hangat bulan turut menemaninya
tak kunjung ia temukan kala mentari kembali beradu
tak ada yang tau ketika ia bernada pilu
hanya Tuhan dan hati yang mampu berseru

Senin, 10 September 2012

Dihadapan Pecundang

jari jemari ini mencari sebuah ketegasan diantara riak rintik hujan
bergelayut anggun mencari titik fokus
sedikitpun tak dijumpai tanda keberadaannya
hingga tabir tersibak oleh cahaya
hatinya tetaplah tak bicara

suatu masa membawanya kedalam sumur berongga
disana didapatinya cahaya kelam tak bersuara
entah apa yang ia cari didasarnya
ia hanya tau, bahwa ia tak bisa hidup tanpa sinarnya

ketika seutas tali menariknya keatas
barulah ia menemukan apa yang ia cari
sebuah jawaban dari hati
jawaban sebagai alasan yang slalu ada selama ini

meski sakitnya tak terucap
perihnya tak tertahan
namun dihadapan pecundang itu..
ia pemaaf
ia mengalah
dan ia kaya alasan untuk mempertahankannya

Rabu, 05 September 2012

Bisa Hidup Tanpa Bulan

Selalu saja rembulan yang punya sinar hangat
Selalu saja pelangi yang menjadi keindahan
Selalu saja bintang yang dibela manja
Selalu saja udara yang diutamakan

Tetap saja kehidupan ini kecil
Sejak dulu melekat dan slalu kecil
Entah kapan kelapangan hati menghampiri
Bergayut bersama mengarungi nirwana hati


Dihadapan orang yang slalu benar
Terasa sakit dan menyebalkan
Dihadapan orang yang slalu bisa
Terasa kecil dan memalukan

Namun segera tubuh ini mengenal kebencian
Kala sang rembulan hanya menjadi rembulan dikala malam
Kala pelangi hanya menjadi indah dikala gerimis
Dan kala udara hanya ada ketika manusia hidup

Begitu munafiknya apa yang dimiliki
Begitu munafiknya tokoh yang berperan dikisah ku
Ambilah semuanya
Milikilah semuanya
Karna aku masih bisa hidup tanpa bulan

Sabtu, 01 September 2012

Kemarin

kemarin ku sapa kembali lintang yang gagah itu
ku lontarkan kerinduan yang mengganggu
terjerat ganasnya ruang tak berpintu
terlalu mudah mencintaimu
terlalu sulit pergi dari mu

kemarin ku tuliskan puisi sendu
berharap kau juga menunggu
entah kapan semuanya berlalu
hanya satu yang ku tau
aku mulai terbiasa menunggu

akankah kau seperti aku?
akankah kau beri hatimu?

kepada arang yang selalu sendu
kepada awan yang tak kenal biru
kepada kupu - kupu yang slalu berlalu

biarlah Tuhan yang tau
bagaimana perasaan ku padamu
biarlah rentetan ini yang jadi saksi bisu
atas semua kenangan ku bersamamu