Satu biji salak terlempar
Ke pelataran sebuah rumah
Ia tersentak beberapa kali
Sebelum kemudian ia terhenti
Sejenak ia berpikir
Oh mungkin aku akan tumbuh disini
Di atas tanah yang terpilih
Dengan selimut hangat mentari
Langkah kuat terlihat dari ujung matanya
Dua jejak yang ditinggalkan
Menyeramkan
Tak beraturan
Belum berhenti ia memperhatikan
Langkah kuat itu menyepaknya
Terpelantinglah ia
Tiga hasta jauhnya
Ia kembali terhentak beberapa kali
Dalam tiap hentakkan itu ia berontak
Tapi angin mencengkeram setiap sisi tubuhnya
Seolah mereka membentak
Diamlah!! Kau bodoh!!
Ia tetap memberontak
Semakin mencoba semakin habis tenaganya
Tiba lah ia diperhentiannya
Ini bukanlah tempat yang ia inginkan
Tanah tandus
Jauh dari hangat mentari
Mungkinkah dia bisa hidup?
Apakah ia meminta untuk ini?
Apakah ia baik-baik saja?
Dia tidak pernah baik-baik saja.
Kediri, 29 Desember 2014
,,and feel hurt too
Tidak ada komentar:
Posting Komentar